Ada masa di mana saya percaya bahwa seorang pemimpin tidak boleh menangis.
Hidup dalam riuhnya tiga dunia sekaligus, sebagai mahasiswa S2 yang meneliti kekayaan alam, seorang pengusaha yang membumikan nilai tambah komoditas, dan sebagai seorang Convener yang merajut titik temu kelestarian di desa, membuat saya secara tidak sadar membangun sebuah cangkang pelindung. Sebuah lapis baja tak kasat mata yang mengharuskan saya memikul segalanya dengan sempurna, tangguh, tanpa boleh terlihat rapuh.
Saya dulu sering mengutuk sistem saraf saya sendiri. Mengapa saya begitu mudah berempati? Mengapa air mata ini begitu mudah jatuh? Di pikiran saya waktu itu, kerentanan adalah sebuah kelemahan fatal bagi seseorang yang memegang peran eksekutif.
Namun, perjalanan bersama Youth Action Forum (YAF) 5.0 menghentikan langkah saya yang terburu-buru. Proses ini menjadi sebuah ruang hening yang mengizinkan saya untuk menunda sejenak segala penghakiman (suspend), dan mulai melihat lebih dalam ke dasar gunung es diri saya sendiri.
Pada momen refleksi hari ini, ketika saya berdiri membagikan cerita di tengah lingkaran, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tangan saya gemetar hebat. Suara saya bergetar. Dan akhirnya, pertahanan itu runtuh, air mata saya benar-benar jatuh.
Tapi kali ini, saya tidak mencoba menghapusnya dengan tergesa-gesa atau menyembunyikannya karena malu. Saya membiarkannya mengalir. Saya mengambil jeda, dan menarik napas dalam-dalam.
Di titik itulah saya menyadari sebuah kebenaran yang membebaskan: Kerentanan saya, air mata saya, bukanlah sebuah kelemahan. Itu justru bukti paling valid bahwa saya masih memiliki hati yang hidup sebagai manusia. Ketiga peran berat yang saya jalani bukanlah kotak-kotak beban yang harus diselesaikan sendirian. Semuanya adalah cara saya melayani sebuah ekosistem yang lebih besar. Dan untuk melayani ekosistem itu dengan baik, saya tidak butuh cangkang yang keras. Saya hanya butuh hati yang berdaulat dan manusiawi.
Dari titik balik ini, keterpanggilan yang kini terasa semakin menguat ternyata bukanlah dorongan untuk bekerja lebih keras, berlari lebih cepat, atau berbicara lebih lantang.
Keterpanggilan terbesar saya saat ini adalah untuk terus mendengar lebih jernih.
Mendengar apa yang alam sampaikan melalui riset-riset agro industri saya. Mendengar apa yang masyarakat butuhkan melalui roda bisnis yang saya bangun. Mendengar bahasa-bahasa tak terucapkan dari berbagai pihak untuk menemukan harmoni. Dan yang paling penting... sudi mendengar suara batin saya sendiri secara utuh.
Hari ini, saya tidak hanya merayakan kelulusan dari sebuah program. Saya lulus dari ilusi masa lalu dan mental model lama yang menyekap saya. Tidak apa-apa jika akhirnya saya mendapat 'predikat' sebagai orang yang paling sering menangis. Selama air mata itu adalah katup yang membuat saya bisa terus melangkah dengan tulus, saya akan memakainya sebagai mahkota kemanusiaan saya.
Terima kasih, ruang hening. Mari kita mulai mendengar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar