Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Sabtu, 14 Maret 2026

Hanya Sekadar Berada di Dekatmu "Ironi Sebuah Kerinduan"


​Di sepertiga malam, ketika dunia sedang hening-heningnya, ada kalanya memori tubuh (somatic memory) bermain-main dengan sistem saraf kita. Tiba-tiba saja, sekelebat rasa rindu datang berkunjung. Aku mendapati diriku menatap layar kosong sebuah ruang obrolan, melihat stiker yang melambai seolah mewakili sisa-sisa masa lalu, lalu tertawa kecil menertawakan diriku sendiri.

Aku kangen, bisik hatiku jujur. Kangen dipeluk, kangen rasa aman yang dulu pernah sesekali hadir.

​Namun, kedewasaan membawa sebuah kacamata kejernihan yang baru. Aku kini tahu persis membedakan: yang dirindukan oleh tubuhku bukanlah sosok pria yang penuh dengan kebingungan dan tembok ego itu. Tubuhku hanya sedang mengalami "lapar kulit" (skin hunger), merindukan sensasi ditenangkan dan dilindungi. Ia merindukan ilusi tentang rasa aman, bukan realita dari orang yang menciptakannya.

​Mengingat rasa rindu itu, ingatanku terlempar pada sebuah pola percakapan lama.

​Dulu, setiap kali aku jujur mengatakan, "Aku kangen," ia hampir selalu merespons dengan pertanyaan rasional yang memecah perasaanku: "Kangen apa? Kangen peluk ya?"

​Dulu aku mengira itu adalah bentuk perhatian. Namun hari ini, aku menyadari ada kedalaman yang hilang dari pertanyaan itu. Saat aku berkata kangen, aku sama sekali tidak sedang menuntut sebuah transaksi fisik. Aku hanya menginginkan sesuatu yang begitu murni dan utuh: Aku hanya kangen berada di dekatnya. Aku hanya meminta sebuah kehadiran (presence). Sebuah ruang di mana kami bisa sekadar duduk berdampingan, menghela napas bersama setelah lelahnya dunia, tanpa perlu melakukan apa-apa atau membuktikan apa-apa.

​Inilah paradoks yang paling menyesakkan namun sangat mencerahkan.

​Bagi seseorang yang terbiasa hidup dengan kapasitas emosional yang penuh pertahanan, "sekadar hadir" adalah tugas yang paling mengancam dan menakutkan. Kehadiran menuntut jiwa yang utuh dan kerentanan yang terbuka. Untuk menghindari beban emosional itu, ia membelokkan kerinduanku menjadi sesuatu yang transaksional dan berbatas waktu: "Kangen peluk ya?" Karena berpelukan adalah tindakan fisik yang bisa diukur dan bisa diakhiri, sementara "berada di dekatmu" adalah sebuah keintiman tanpa batas yang membuat sistem sarafnya kewalahan.

​Aku meminta hal yang paling sederhana di dunia, namun aku memintanya dari seseorang yang menganggap kesederhanaan itu sebagai ancaman. Ia terlalu sibuk tersandung egonya sendiri di halaman depan, hingga tak sanggup masuk ke ruang tamu hatiku yang sudah kusiapkan dengan begitu hangat.

​Malam ini, aku menerima rasa kangen yang datang itu tanpa penghakiman. Aku mempersilakannya lewat, lalu dengan lembut memeluk diriku sendiri.

​Kepada hatiku yang dulu pernah mencintai dengan sebegitu murni, transparan, dan tanpa syarat: Terima kasih. Kemampuanmu untuk hadir secara utuh bagi seseorang bukanlah kelemahan, melainkan aset terbesarmu. Kelak, akan ada seseorang yang menganggap "hanya berada di dekatmu" sebagai hadiah terindah dalam hidupnya, bukan sebagai teka-teki yang harus ia hindari.

​Dan sampai hari itu tiba, aku sudah menemukan ruang aman yang paling utuh: di dalam diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar