Mari kita bicarakan satu kejujuran yang sering kali disembunyikan oleh mereka yang sedang belajar melepaskan, Terkadang, meskipun kita tahu seseorang tidak baik untuk ruang batin kita, kita masih memiliki keinginan untuk menemuinya lagi.
Jika hari ini kamu merasakan hal itu, tolong, jangan marahi dirimu sendiri. Jangan merasa usahamu untuk sembuh telah gagal.
Secara biologis, tubuh dan pikiran kita sudah terlalu lama terbiasa dengan sebuah siklus. Kita terbiasa dengan penantian, terbiasa dengan letupan kelegaan sesaat ketika ia tiba-tiba membalas pesan, dan terbiasa meromantisasi pertemuan-pertemuan singkat. Saat kita memutuskan untuk berhenti dan menutup pintu, wajar jika tubuh kita mengalami gejala putus kebiasaan. Rindu yang muncul itu bukanlah tanda bahwa kamu harus kembali; itu hanyalah gema dari anak kecil di dalam batinmu yang masih berharap, "Bagaimana kalau kali ini ia benar-benar berubah?"
Namun, di antara rasa rindu dan keputusan untuk membuka pintu, ada satu ruang kosong yang sangat berharga. Ruang itu bernama Jeda.
Di masa lalu, setiap kali pintu itu diketuk, kita terburu-buru membukanya. Kita membiarkan rasa rindu membajak logika kita. Kita lupa mengamati dengan saksama siapa yang sebenarnya berdiri di depan pintu.
Sebuah nasihat bijak pernah mengingatkan bahwa kita tidak boleh terburu-buru dalam menilai dan menerima seseorang, sampai kita benar-benar mencari tahu tentang seluruh keadaannya dan bagaimana karakter aslinya. Karakter atau akhlak yang baik bukanlah sekadar tentang tutur kata yang sopan di awal sapaan. Karakter diuji dari bagaimana seseorang menghargai batasanmu, bagaimana ia bersedia hadir secara penuh saat kamu membutuhkan ruang diskusi yang hangat, dan bagaimana ia merawat perasaanmu, bukan hanya menuntut ketersediaanmu.
Hanya karena seseorang kembali menyapamu, bukan berarti ia datang dengan versi yang lebih baik. Sering kali, kita keliru menganggap 'keakraban yang kembali' sebagai sebuah 'kemajuan'. Padahal, bisa jadi ia hanya sedang mencari akses ke tempat persinggahan lamanya yang nyaman.
Maka, jika suatu hari nanti masa lalu kembali mengetuk pintu ruang batinmu, kamu punya hak penuh untuk mengambil jeda. Kamu tidak perlu buru-buru menyambutnya, tidak perlu juga buru-buru mengusirnya. Berdirilah dengan tenang, tatap matanya, dan ajukan satu pertanyaan di dalam kepalamu "Apa yang berbeda kali ini?"
Jika tidak ada yang berubah, jika ia masih membawa pola lama yang mengabaikan kebutuhan emosionalmu, jika ia tidak bisa menawarkan kehadiran yang utuh, maka kamu tahu persis apa yang harus dilakukan.
Kamu boleh merindukan seseorang, sungguh. Tapi hari ini, kamu sudah terlalu berharga untuk mengorbankan kedamaianmu hanya demi mengulang rasa sakit yang sama. Jagalah pintu ruang batinmu, karena yang berhak masuk dan menetap hanyalah ia yang datang dengan kesadaran penuh untuk memuliakanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar