Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
Jumat malam, menjelang istirahat
Ada masa ketika kita tidak benar-benar bergerak ke mana-mana, tapi di dalam, sesuatu sedang disusun ulang pelan-pelan.
Hari ini terasa seperti itu.
Bukan hari yang penuh pencapaian besar, bukan juga hari yang kosong. Lebih seperti hari untuk merapikan arah. Membuka kembali lembaran lama, melihat ulang perjalanan yang pernah dimulai dari sebuah skripsi, dari laboratorium kecil, dari tangan yang belajar fermentasi pertama kali, lalu tanpa terasa menjelma menjadi sebuah usaha yang hidup.
Aku sempat berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
apa sebenarnya yang sedang kubangun?
Bukan sekadar produk.
Bukan sekadar usaha.
Sepertinya yang sedang dibangun adalah ruang.
Ruang di mana ilmu tidak berhenti di kertas.
Ruang di mana bahan sederhana bisa memberi penghidupan.
Ruang di mana sesuatu yang dimulai dari rumah bisa tumbuh, tanpa harus kehilangan kesederhanaannya.
Di dalam proses itu, aku juga belajar tentang posisi.
Tidak harus selalu di depan.
Tidak harus selalu terlihat.
Ada orang yang memang dipanggil untuk berdiri di panggung.
Ada juga yang merasa cukup menjadi akar.
Dan mungkin, aku lebih tenang di sana.
Menjadi bagian dari yang menumbuhkan, bukan yang ditampilkan.
Menjaga arah, bukan mengejar sorotan.
Hari ini aku melihat kembali mimpi yang dulu terasa jauh:
melihat bangunan produksi berdiri,
melihat orang-orang punya penghasilan dari kelapa,
melihat ilmu yang pernah kupelajari dipakai banyak orang.
Aneh rasanya, karena mimpi itu tidak lagi terasa seperti ambisi.
Lebih seperti doa yang sedang mencari jalannya sendiri.
Aku juga belajar menerima bahwa setiap orang punya ritmenya.
Ada yang tumbuh cepat.
Ada yang tumbuh pelan.
Dan yang pelan bukan berarti tertinggal.
Kadang justru sedang menumbuhkan akar.
Malam ini aku memilih berhenti sejenak.
Merapikan pikiran.
Menutup laptop.
Memberi tubuh waktu untuk istirahat.
Masih ada banyak yang harus dikerjakan: tugas RBM, RAB, proposal Pendape Sense Lab.
Tapi tidak semua harus selesai hari ini.
Ada hal-hal yang memang harus dikerjakan dengan kepala jernih, bukan dengan tubuh yang lelah.
Mungkin ini yang sedang kupelajari:
menjaga diri juga bagian dari menjaga mimpi.
Karena mimpi yang besar tidak selalu butuh langkah cepat.
Kadang hanya butuh orang yang mau tinggal cukup lama,
dan merawatnya dengan sabar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar