Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Sabtu, 10 Januari 2026

Tentang yang Datang Tiba-tiba, dan Energi yang Tidak Lagi Ingin Kutampung


Belakangan aku belajar satu hal sederhana tapi penting:

tidak semua orang yang pernah baik, harus tetap diberi akses ke hidup kita.


Ada orang yang datang tiba-tiba.

Bukan dengan niat yang jelas, tapi dengan emosi yang berantakan.

Nada bicara berubah, cerita bergeser, dan hal kecil bisa jadi drama panjang.


Dulu, mungkin aku akan sibuk menjelaskan.

Meluruskan. Membela diri. Mencari cara supaya semua orang merasa “baik-baik saja”.


Sekarang… rasanya beda.

Bukan marah. Bukan benci.

Lebih ke ilfeel yang tenang.


Aku masih bisa mengingat kebaikannya di masa lalu.

Aku masih bisa merasa kasihan.

Tapi bersamaan dengan itu, tubuhku juga bilang: cukup.


Ternyata empati tidak selalu berarti tinggal.

Kadang empati cukup berbentuk: mundur pelan, tanpa ribut.


Lucunya, saat seseorang kehilangan prioritas dalam hidup kita,

reaksinya bisa jadi aneh.

Ada yang merasa ditinggalkan, padahal tidak pernah dijanjikan apa-apa.

Ada yang marah, padahal kita hanya sedang menjalani hidup sendiri.


Di situ aku sadar:

reaksi orang lain atas batas yang kita buat, bukan tanggung jawab kita.


Hari ini aku memilih tenang.

Tidak menjelaskan panjang lebar.

Tidak menanggapi drama.

Tidak merasa bersalah karena menjaga jarak.


Mood sempat terganggu, iya.

Tapi hanya sebentar.

Karena hatiku tahu ke mana arahnya.


Ada rasa kangen juga.

Bukan pada keributan, tapi pada ketenangan.

Pada seseorang yang kehadirannya tidak menuntut, tidak menekan, tidak membuatku ragu pada diriku sendiri.


Dan dari semua itu, aku belajar satu hal lagi:

kedewasaan kadang terasa seperti malas—

malas berdebat, malas membuktikan, malas menjelaskan—

padahal sebenarnya itu bentuk paling jujur dari menjaga diri.


Aku tidak berubah jadi dingin.

Aku hanya lebih selektif tentang kehangatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar