Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Senin, 26 Januari 2026

Tentang Lelah yang Tidak Pernah Boleh Ada



Selama ini aku hidup dengan satu aturan yang tidak pernah tertulis: aku harus pintar, aku harus bisa, dan aku tidak boleh lelah. Aku mendorong diriku keras—lebih keras dari yang kusadari. Belajar lebih lama, berpikir lebih jauh, menjaga semuanya tetap berjalan. Seolah berhenti adalah kemewahan yang tidak pernah kupunya.

Aku sering ketiduran di depan laptop, bukan karena aku malas, tapi karena tubuhku menyerah saat aku sendiri tak pernah mengizinkan diri berhenti.

Tidur terasa sayang, seolah jika aku menutup mata, sesuatu akan hilang, runtuh, atau tertinggal. Hari ini, saat aku mengakuinya, tubuhku bergetar. Tanganku gemetar menulis kebenaran ini. Dan aku menangis— bukan karena lemah, tapi karena akhirnya aku jujur pada betapa lamanya aku menahan lelah sendirian.

Aku mulai melihat: “aku tidak boleh lelah” bukan kebenaran tentang diriku, melainkan strategi lama yang dulu menjagaku tetap aman.

Hari ini, aku belum sepenuhnya bisa melepaskannya. Tapi mungkin aku bisa melakukan satu hal kecil: menurunkan bahu, menarik napas, dan mengakui bahwa aku juga bagian dari sistem yang selama ini kujaga.

Aku tidak berhenti menjadi pintar. Aku tidak berhenti menjadi mampu. Aku hanya mulai belajar bahwa kehadiranku tidak perlu dibayar dengan mengorbankan tubuhku sendiri.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar