Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Selasa, 20 Januari 2026

Tentang Diam yang Mengamatiku Hidup

Sekayu, 20 Januari 2026 — 20.52 WIB

Hari ini aku kembali bertanya-tanya. 

Aku merasakan ia mengamatiku. Melihat langkah-langkah kecilku.
Mungkin membaca tulisanku. Mungkin memperhatikan caraku hidup.
Tapi ia tidak menyapa.

Dan di kepalaku muncul banyak kemungkinan. Mungkin baginya, melihatku hidup dengan baik sudah cukup. Mungkin itu caranya merasa tenang dan lega, tanpa harus masuk, tanpa harus mengetuk.
Aku mencoba memahami itu. Sungguh.

Tapi di sisi lain, ada bagian diriku yang lelah menebak-nebak. Aku ingkn sekali mendengar kejelasan dari mulutnya sendiri. Bukan penjelasan panjang. Hanya kejujuran sederhana tentang bagaimana caranya ia nyaman berkomunikasi, apa yang ia butuhkan ketika menjauh, dan apa yang sebenarnya sedang ia jaga dengan diamnya.

Karena diam yang terlalu lama bukan hanya hening--ia juga bisa menjadi ruang kosong yang melelahkan.

Saat kami bertemu, sering kali ada banyak jeda. Ruang sepi. Percakapan singkat. Tidak buruk, tapi selalu terasa belum selesai. 

Aku selalu pulang dengan rasa yang sama: kurang waktu. Masih ingin tinggal. Masih ingin duduk lebih lama. Masih ingin bertemu lagi. Dan dari sanalah rindu itu lahir--bukan dari drama, bukan dari kekurangan syukur, melainkan dari kebutuhan yang belum sepenuhnya tersentuh.

Aku mulai jujur pada diriku sendiri hari ini. Bahwa aku senang bertemu. Tapi frekuensinya terasa jarang. Bahwa aku kuat berdiri sendiri. Tapi bukan berarti aku tidak butuh arah.

Aku tidak sedang menuntut. Aku hanya sedang menimbang: apakah ruang abu-abu ini tempat yang bisa kutinggali lama, atau hanya tempat singgah yang perlahan menggerus.

Hari ini aku memilih diam. Bukan karena tidak rindu. Justru karena rinduku besar, dan aku ingin menjaganya tetap bersih.

Aku menarik napas panjang. Menunda pesan. Menunda harapan yang ingin segera dijawab.

Jika suatu hari ada kejelasan, aku ingin menerimanya dengan tubuh yang netral. Jika suatu hari harus melangkah sendiri, aku ingin melakukannya tanpa kehilangan diriku. Malam ini, aku memilih satu hal: tetap utuh. Dan itu sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar