Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute pada 6 Januari 2026 dengan niat yang sebenarnya sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan yang bisa digunakan untuk inisiatif Bukit Pendape. Tapi aku tidak ingin datang membawa daftar pertanyaan kaku atau proposal yang sudah rapi. Aku memilih merujak bersama.
Dari situ, proses sensing justru mulai bekerja.
Setelah dari kantor, aku melanjutkan waktu dengan ngopi bersama Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Aku bertanya sedikit tentang pengalamannya di kerja community development, bukan untuk mencari rumus, tapi untuk mendengar cerita.
Dari cerita-cerita itu, aku mulai menyadari satu hal penting: kerja perubahan sistem bukan tentang bergerak cepat atau terlihat rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha tidak langsung terlihat hasilnya. Ada kelelahan yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.
Aku belajar bahwa orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Dari sini aku mulai memahami bahwa sistem bukan hanya struktur dan aktor, tapi juga ritme manusia di dalamnya.
Tentang batas, ruang aman, dan cara hadir
Dari berbagai percakapan, muncul banyak kalimat sederhana yang justru terasa dalam:
“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”
Kalimat-kalimat ini membuatku sadar bahwa keberlanjutan sistem sangat bergantung pada keberlanjutan individu. Dalam kerangka systems thinking, ini terasa jelas: sistem yang kelelahan tidak akan mampu menciptakan perubahan yang sehat.
Aku juga menangkap betapa pentingnya ruang.
“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku atau mengerjakan hal lain.”
Ini terlihat sepele, tapi sebenarnya menunjukkan kualitas kesadaran. Ruang fisik, jeda, dan suasana ternyata bagian dari sistem kerja. Sistem tidak hanya hidup di rapat dan dokumen, tapi juga di kopi, keheningan, dan percakapan tanpa agenda.
Mental model dan dinamika kuasa yang bekerja
Dalam proses sensing, aku juga mulai melihat lapisan yang tidak kasat mata. Kak Heni bercerita bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios, yang menurut persepsi umum punya citra sebagai sosok yang mudah marah. Terlepas dari benar atau tidaknya, persepsi ini membentuk batas psikologis.
Di sini aku belajar tentang mental model dan power dynamics.
Bukan hanya soal jabatan, tapi soal rasa aman.
Secara struktural, ruang lintas peran sebenarnya ada. Kak Heni, misalnya, bisa duduk di ruang manajer kampanye bersama Bang Adios untuk menyampaikan ide. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya. Ide tertahan bukan karena tidak ada, tapi karena ada kehati-hatian, asumsi, dan pengalaman masa lalu yang belum selesai.
Dalam Theory U, aku melihat sistem ini masih sering bergerak di tahap downloading—bertindak berdasarkan asumsi lama dan cerita yang sudah beredar. Proses sensing membantuku melihat pola ini tanpa menyalahkan siapa pun.
Source: dari mana orang bergerak
Aku juga mulai menyadari bahwa setiap orang bergerak dari source yang berbeda.
Ada yang bergerak dari tanggung jawab struktural dan menjaga stabilitas.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang di lapangan dan pendampingan komunitas.
Ada yang bergerak dari pemikiran kritis, pertanyaan, dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari kelelahan, kehati-hatian emosional, dan kebutuhan untuk aman.
Semua ini hidup bersamaan dalam satu sistem.
Theory U membantuku memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya mengatur struktur, tanpa menyentuh source tempat orang berangkat. Dan sensing adalah latihan untuk mengenali source itu—pada orang lain, dan juga pada diriku sendiri.
Apa artinya semua ini bagiku?
Pelan-pelan aku sampai pada satu kesadaran:
Jika ingin terlibat dalam perubahan sistem seperti Bukit Pendape, langkah pertamanya bukan memperbaiki sistem, tapi belajar hadir di dalam sistem dengan lebih sadar.
Belajar mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Belajar memahami bahwa tidak semua orang berada di ritme yang sama.
Belajar menerima bahwa perubahan sistem adalah kerja panjang, yang membutuhkan empati, batas diri, dan ruang aman.
Tulisan ini bukan penutup. Justru ini penanda bahwa proses belajarku sedang berjalan. Dengan menuliskannya, aku bisa melihat bahwa ada progres—bukan dalam bentuk capaian besar, tapi dalam cara berpikir, merasakan, dan hadir yang perlahan berubah.
Dan mungkin, di situlah perubahan sistem sebenarnya dimulai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar