Ada percakapan yang tidak bergerak ke mana-mana.
Bukan karena tidak ada rasa,
melainkan karena dua orang berdiri dengan bahasa emosi yang berbeda.
“hehe”
dibalas “hehe”
lalu “hmm”
lalu “ja’o”
Sekilas, percakapan itu terasa datar.
Hampir seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi justru di sanalah aku mulai mendengar diriku sendiri.
Selama ini, aku terbiasa mengisi ruang.
Menjawab dengan kalimat.
Menjaga alur.
Memberi makna agar percakapan tetap hidup.
Sementara dia hadir dengan cara yang sangat minimal.
Seolah berkata,
aku di sini, tapi jangan minta lebih.
Dan untuk pertama kalinya,
aku memilih tidak menambal keheningan itu.
Aku menjawab “hehe”
bukan karena aku tidak punya isi,
melainkan karena aku sedang belajar
bahwa aku tidak harus selalu menjelaskan diriku
agar tetap layak berada di sebuah hubungan.
Rasanya canggung.
Sedikit aneh.
Bahkan sempat membuatku kesal pada diri sendiri.
Karena diam bukan caraku mencinta.
Aku terbiasa hadir penuh.
Tapi di titik itu aku sadar:
diamku kali ini bukan bentuk menghilang,
melainkan batas.
Aku tidak menolak.
Aku juga tidak mengejar.
Aku hanya memilih hadir secukupnya.
Percakapan “hehe–hehe” itu tidak memberiku kepastian.
Tidak juga memberiku kehangatan yang selama ini aku cari.
Tapi ia memberiku sesuatu yang lain:
kesadaran bahwa aku sedang berubah.
Aku mulai bisa duduk di keheningan
tanpa panik harus mengisinya.
Tanpa takut kehilangan
hanya karena aku tidak berbicara banyak.
Mungkin inilah bentuk kedewasaan yang jarang dibicarakan:
bukan tentang berkata lebih banyak,
melainkan tentang tahu kapan berhenti berbicara
tanpa harus meninggalkan diri sendiri.
Hari ini,
aku tidak menilai percakapan itu sebagai gagal atau berhasil.
Aku hanya mencatatnya
sebagai tanda bahwa aku sedang belajar
menjadi hadir dengan cara yang lebih jujur.
Lebih tenang.
Lebih sadar.
Dan perlahan,
lebih setia pada diriku sendiri.
Kalimat afirmasi penutup
Aku tidak perlu ramai untuk bermakna.
Aku hadir, dan itu cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar