Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Rabu, 17 Desember 2025

Yang Datang Tanpa Janji


Tidak semua percakapan dimulai karena rencana.
Sebagian hadir karena ruang yang kebetulan terbuka.

Hari itu, ia hanya bertanya tentang hal remeh:
kopi apa yang masih ada,
apakah stempel tersedia,
tinta warna hijau cocok atau tidak.

Tidak ada maksud lain.
Tidak ada kalimat yang disiapkan untuk menjadi penting.
Namun dari jawaban-jawaban singkat itu, ia merasakan sesuatu yang jarang ia temui akhir-akhir ini—
ketenangan.

Bukan karena kata-kata manis.
Justru karena tidak ada tuntutan di dalamnya.

Percakapan berjalan seperti air.
Pagi esok, motor dipinjam sebentar.
Nota bisa dibuat jika tidak sibuk.
Segalanya terasa cukup.

Di sela-sela itu, ia menulis satu kalimat yang jujur, hampir tanpa sadar:
Alhamdulillah, senangnya ada yang bikin tenang.

Ia tidak sedang mengikat rasa itu ke siapa pun.
Ia hanya mengakuinya.

Namun tubuhnya mulai berbicara lebih dulu.
Ada rasa takut yang datang tanpa sebab.
Ada malu yang muncul tanpa peristiwa.

Ia tidak memahaminya sepenuhnya,
tapi ia memilih untuk tidak memendam.

Ia memberi ruang:
jika ada yang terasa janggal, silakan disampaikan.
jika ingin bercerita, ia ada.

Tidak untuk mendekat.
Tidak untuk memiliki.
Hanya agar semuanya tetap jujur.

Jawaban itu datang di malam hari.
Pendek.
Tenang.
Tanpa usaha menghindar.

Ia akan menikah.

Tidak ada yang runtuh.
Tidak ada yang perlu diratapi.

Ia menjawab dengan doa.
Dengan syukur yang tulus.
Dengan keikhlasan yang terasa dewasa.

Di sana ia mengerti:
tidak semua rasa datang untuk dilanjutkan.
Sebagian hanya mampir untuk mengingatkan bahwa ia masih bisa merasakan dengan utuh.

Permintaan maaf menyusul.
Kalau-kalau pernah memberi harapan.
Kalau-kalau sikapnya terbaca lebih dari niat sebenarnya.

Ia menerimanya tanpa menimbang lama.
Dan ia pun meminta maaf—
atas keramahan yang mungkin terlalu dekat,
atas panggilan yang mungkin terlalu sering.

Menjaga jarak, kali ini, bukan tentang menjauh.
Tapi tentang merawat batas dengan hormat.

Di akhir percakapan, ia menulis terima kasih.
Bukan untuk mengikat kenangan,
melainkan untuk mengakhiri sesuatu dengan baik.

Kejujuran, meski datang belakangan,
tetap menyelamatkan banyak hal.

Malam itu, ia tidur tanpa pertanyaan.
Tanpa sisa harapan yang menggantung.

Beberapa pertemuan memang tidak dimaksudkan untuk menjadi apa-apa.
Namun cukup untuk mengajarkan
bagaimana hadir sepenuhnya,
dan pergi dengan tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar