Untukmu,
yang dulu datang dengan langkah ringan.
Aku ingat caramu menyapa.
Tenang, tidak tergesa, tapi cukup membuatku menoleh.
Aku tidak langsung tertarik—bahkan nyaris biasa saja.
Tapi kamu bertahan di jarak yang sopan,
dan perlahan, aku membuka ruang.
Versimu yang dulu tahu bagaimana hadir.
Kamu bertanya.
Kamu memperhatikan.
Kamu tidak membuatku menebak-nebak.
Aku sering bertanya-tanya ke mana kamu pergi.
Bukan karena kamu menghilang sepenuhnya,
tapi karena kehadiranmu kini seperti bayangan—
terlihat, tapi sulit disentuh.
Aku tidak marah padamu.
Aku hanya berduka atas sesuatu yang sempat terasa mungkin.
Atas percakapan yang dulu mengalir,
atas rasa aman yang pernah singgah sebentar.
Jika kamu lelah, aku mengerti.
Jika kamu takut, aku tidak menyalahkan.
Aku hanya ingin jujur:
aku merindukan versi dirimu yang berani hadir.
Bukan untuk kembali,
bukan untuk dijanjikan,
hanya untuk diakui bahwa ia pernah ada.
Hari ini aku belajar melepaskan dengan lembut.
Bukan karena aku tidak peduli,
tetapi karena aku peduli pada diriku sendiri.
Jika suatu hari kamu menemukan kembali keberanian itu—
untuk siapa pun, di mana pun—
aku berharap kamu tidak lagi pergi saat kedekatan menjadi nyata.
Dan untuk diriku,
aku berjanji tidak akan menutup hati,
hanya karena seseorang memilih berhenti di tengah jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar