(Untuk saat-saat ketika tubuh terlalu siaga)
Ritual ini sederhana.
Tidak mistis, tidak rumit.
Hanya ruang kecil untuk bernapas.
Aku duduk atau berbaring dengan nyaman.
Satu tangan di dada, satu di perut.
Aku menarik napas pelan selama empat hitungan.
Aku menghembuskannya selama enam hitungan.
Aku mengulanginya beberapa kali.
Aku berbisik pada diriku sendiri:
“Aku tidak sedang dalam bahaya.
Aku hanya sedang rindu, dan itu manusiawi.”
Aku membayangkan pikiranku seperti lampu yang diredupkan.
Tidak mati, hanya cukup redup untuk istirahat.
Aku menutup dengan kalimat:
“Aku mengizinkan diriku untuk tidak siaga malam ini.”
Jika pikiranku kembali berlari, aku mengulang napas.
Tidak ada target. Tidak ada kegagalan.
Penutup kecil untuk diriku
Aku menulis ini sebagai pengingat,
bahwa aku boleh mencintai tanpa kehilangan diriku.
Aku boleh berharap,
sambil tetap berpijak.
Dan jika suatu hari aku menoleh kembali ke tulisan ini,
aku ingin ingat:
aku pernah memilih diriku dengan lembut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar