Ada malam-malam ketika rindu tidak berisik. Ia tidak menangis keras, tidak menuntut jawaban.Ia hanya duduk di dada, diam, tapi penuh.
Aku belajar bahwa rindu tidak selalu ingin dituruti. Kadang ia hanya ingin diakui.
Aku tipe orang yang hangat.A ku menyukai kehadiran yang terasa,p ercakapan yang saling menyapa,dan jeda yang tidak membuatku bertanya-tanya sendiri.
Namun hidup mempertemukanku dengan seseorang yang caranya bertahan adalah menarik diri.B ukan karena tidak peduli,t api karena begitulah ia belajar hidup: sendiri, pelan, dan hemat emosi.
Di titik itu aku sadar,m encintai bukan soal siapa yang paling kuat menunggu, tapi siapa yang berani berkata jujurt anpa mengorbankan dirinya sendiri.
Maka aku mulai belajar bahasa baru: bahasa kebutuhan yang tidak menuntut, bahasa rindu yang tidak memaksa, bahasa kejujuran yang tetap lembut.
Aku berkata pada diriku sendiri: Aku boleh butuh kedekatan. Aku boleh ingin disapa. Aku boleh berharap hadir.
Dan kalau harapan itu tidak bertemu jawaban, itu bukan karena aku berlebihan, mungkin hanya karena kami sedang berdiri di fase hidup yang berbeda.
Aku tidak sedang meminta siapa pun berubah. Aku hanya menolak diam sambil kebingungan.
Karena mencintai seharusnya membuat kita lebih utuh, bukan lebih sunyi.
Dan jika suatu hari rindu ini akhirnya pulang - entah disambut, atau dilepaskan, aku ingin ia tahu bahwa aku sudah menyampaikannya dengan cara yang paling dewasa yang aku bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar