Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Rabu, 24 Desember 2025

Hari 2 — Tubuhku Lebih Jujur daripada Pikiranku

Hari ini aku mulai menyadari sesuatu yang selama ini sering kuabaikan.
Bukan pikiranku yang paling jujur tentang perasaanku, tapi tubuhku.

Aku bisa meyakinkan diriku dengan banyak alasan. Bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku sudah lebih dewasa. Bahwa aku tidak terlalu terpengaruh. Tapi tubuhku tidak bisa diajak berbohong terlalu lama. Ia selalu bereaksi lebih dulu, bahkan sebelum aku sempat memberi nama pada apa yang kurasakan.

Ketika tidak ada kabar, dadaku terasa berat. Napasku jadi pendek tanpa alasan yang jelas. Ada gelisah yang tidak bisa kujelaskan, tapi terasa nyata. Dulu aku mengira ini tanda aku peduli terlalu dalam. Sekarang aku mulai mengerti, ini tanda tubuhku sedang merasa tidak aman.

Aku baru sadar, selama ini aku terlalu sering memaksa tubuhku mengikuti logika. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku tidak perlu cemas. Bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa aku tidak boleh berlebihan. Tapi semakin sering aku menekan rasa itu, semakin keras tubuhku mencari cara untuk didengar.

Anxious attachment tidak selalu muncul dalam bentuk pikiran berisik. Kadang ia hadir sebagai tubuh yang tegang, bahu yang kaku, rahang yang mengeras tanpa sadar. Ia hadir sebagai kelelahan emosional yang tidak hilang meski aku sudah tidur cukup. Dan aku baru mengerti hari ini, tubuhku tidak sedang manja. Ia sedang memberi sinyal.

Selama ini, saat tubuhku gelisah, aku langsung mencari jalan keluar tercepat. Aku menghubungi. Aku menunggu. Aku mencari tanda-tanda kecil yang bisa menenangkan. Tubuhku tenang sesaat, lalu kembali cemas. Siklus itu berulang, dan aku menyebutnya hubungan.

Hari ini aku memilih sedikit berbeda. Bukan dengan memaksa diriku tenang, tapi dengan mendengarkan. Aku berhenti sejenak dan bertanya, apa yang sebenarnya kamu butuhkan? Jawabannya bukan pesan. Bukan penjelasan. Bukan kepastian dari orang lain. Jawabannya sederhana tapi sulit kuterima: aku butuh rasa aman yang tidak bergantung pada kehadiran seseorang yang tidak konsisten.

Aku mulai mengerti bahwa tubuhku tidak menuntut banyak. Ia hanya ingin stabil. Ia ingin tahu bahwa aku tidak akan terus menempatkannya di situasi yang membuatnya waspada setiap saat. Ia ingin tahu bahwa aku ada di pihaknya.
Hari ini aku tidak mencoba memperbaiki apa pun. Aku hanya mencoba hadir. Mengakui bahwa ada bagian dalam diriku yang lelah hidup dalam ketidakpastian. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menyalahkan bagian itu. Aku menganggapnya sebagai pesan, bukan kelemahan.

Jika hari ini tubuhku terasa gelisah, aku tidak akan langsung bertindak. Aku akan duduk bersamanya. Aku akan bernapas lebih pelan. Aku akan mengingatkan diriku sendiri bahwa rasa tidak nyaman ini tidak berbahaya. Ia hanya ingin dikenali.
Mungkin inilah awal dari hubungan yang berbeda. Bukan dengan orang lain, tapi dengan tubuhku sendiri. Hubungan di mana aku tidak lagi memaksanya bertahan di tempat yang sama, hanya demi disebut kuat.

Hari ini aku belajar satu hal kecil tapi penting: sebelum aku bertanya kenapa seseorang bersikap seperti itu, aku perlu bertanya kenapa tubuhku terus terluka di tempat yang sama. Dan aku berhak memilih untuk tidak kembali ke sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar