Aku pernah bertanya dalam diam,
apa yang membuat seseorang merasa takut saat mendekat padaku.
Bukan dengan nada menuntut,
melainkan dengan hati yang sungguh ingin memahami.
Aku menelusuri diriku sendiri,
mencari apakah ada bagian dariku yang terlalu ramai,
terlalu berharap,
atau terlalu hadir.
Aku menimbang setiap langkah,
mengurangi suara,
menahan rindu,
agar kehadiranku tidak terasa mengancam.
Namun semakin kupikirkan,
semakin jelas satu hal yang lembut tapi tegas:
tidak semua ketakutan lahir dari orang yang kita temui,
sebagian berasal dari apa yang bangkit di dalam diri
saat kedekatan menjadi nyata.
Takut pada rasa yang tumbuh tanpa aba-aba.
Takut pada harapan yang mengikuti pertemuan.
Takut pada tanggung jawab yang tak bisa lagi ditunda.
Aku tidak sedang menakutkan.
Aku hanya menjadi cermin
bagi sesuatu yang belum siap dihadapi.
Ia datang hari itu,
dan aku belajar:
keberanian sesaat bisa hadir,
tanpa kesiapan untuk tinggal.
Aku mengaguminya, benar.
Namun aku juga belajar menjaga diriku.
Sebab mengagumi seseorang
tidak seharusnya membuatku mengecil,
atau meragukan kelayakanku untuk dicintai.
Aku boleh hadir sepenuhnya,
tanpa harus menghaluskan diriku
agar tidak ditinggalkan.
Karena cinta yang sehat
tidak tumbuh dari rasa takut,
melainkan dari keberanian untuk menetap.
Dan hari ini,
aku memilih berdiri di sisiku sendiri—
tenang, utuh, dan tidak terburu-buru.