Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Minggu, 28 September 2025

Candu yang Mematikan

Aku tahu dengan pasti, candu terhadap manusia, adalah cara sederhana untuk menuju mati.
Melepas segala hal yang menyangkut kamu, aku seperti bunuh diri kecil-kecilan. Membunuh segala harapan, memangkas setiap keinginan, hingga membunuh fikiran agar tidak terlalu banyak memikirkan.

Ada sesuatu darimu yang selalu membuatku kembali, meski aku telah menyadari aku harus pergi. Aku telah terbiasa mendengar suaramu di sela hening. Aku telah terbiasa mencarimu saat mimpi buruk membuatku menggigil dingin. Keterbiasaan yang membuatku setengah mengemis memintamu tetap menetap, meski barangkali, kita tak lagi layak.

Kamu adalah ritme, pola, yang terbentuk dari hari ke hari. Tanpa kamu mungkin aku tetap bertahan, hanya dengan hampa yang menyeruak dengan perlahan, mengikis senyum, dan membuat sunyi yang berkepanjangan.

Pada beberapa malam aku masih meraba udara, berharap sisa suaramu akan mampir kembali sebelum lelap tiba. Aku masih menantimu di sela kesibukan, meski sisi kesadaran memperingatkan, barangkali, kamu bahkan tidak mengingat aku sama sekali.

Mereka berkata, aku terlalu banyak mengandalkan diri sendiri. Tapi kamu, di sini, malam ini, tanpa kamu aku kehilangan peta untuk tempat yang di sebut sebagai suaka, tempat menjahit sebagian luka yang aku miliki. 

 Lentera Shenja  
 #RuangRelung

Jumat, 19 September 2025

Surat Keterangan

18 September 2025

Kemarin saya ke kampus.
Mengurus surat keterangan masih kuliah.

Biasa. Urusan sederhana yang kadang bisa jadi panjang.
Tapi kali ini bukan panjang. Lucu.

Petugasnya menatap saya sebentar. Bertanya semester berapa.
“Semester lima, Pak,” jawab saya.

Lalu tangannya lincah mengetik. Surat langsung jadi.
Begitu saya lihat, mata saya langsung membesar:

Tertulis saya lahir tahun 2007.
Artinya… umur saya baru 18 tahun.

Untung saja saya koreksi.
Kalau tidak, bisa-bisa saya dianggap mahasiswa super muda. Atau malah “anak ajaib” yang masuk kuliah sejak SMP.

Saya tidak marah. Justru ingin tertawa.
Bayangkan, tiba-tiba dapat bonus umur muda 10 tahun. Siapa yang tidak senang?

Tapi hidup memang tidak bisa diisi dengan “kecelakaan lucu” seperti itu.
Saya tetap harus jujur. Tetap harus menunjukkan umur yang sebenarnya.
Walau kadang, jujur itu bikin kita merasa tua.

Saya jadi ingat: pendidikan itu bukan soal cepat-cepat selesai. Bukan juga soal tampak muda atau senior.
Tapi soal apa yang kita dapat selama belajar.
Kalau ada yang salah ketik, bisa dikoreksi.
Kalau ada yang salah langkah, ya bisa diperbaiki.

Akhirnya surat itu beres juga. Dengan tahun lahir yang benar.
Meski begitu, cerita tentang “lahir 2007” tetap saya simpan.
Sebagai pengingat, bahwa kuliah tidak hanya penuh tugas dan ujian.
Tapi juga kadang ada tawa yang bisa dibawa pulang. 

Pergi Ke Universitas

Hari ini kami ramai-ramai berangkat ke gedung berwarna biru putih, Dinas Penddikan kami menyebutnya. Kami mengantarkan, Adik saya.
Pergi menuntut ilmu.

Kali ini rumah terasa benar-benar berbeda.
Tidak ada lagi teman berantem. Tidak ada lagi yang bisa saya suruh bawakan tas. Tidak ada lagi yang bisa diminta belikan ini itu. Tidak ada lagi yang bisa dipaksa menemani ke sana ke sini.

Ia akan belajar di universitas. Di kota hujan.
“Semangat ya, Dik. Anak sholeh.”
Itu doa saya. Dalam hati, dalam setiap langkah.

Saya yakin, masa depan yang baik sedang menunggu.
Tantangan pasti banyak. Tapi bukankah itu justru tanda bahwa jalan ini jalan yang benar? Menuntut ilmu memang tak selalu mudah.

Saya mengantarnya dengan kaca mata hitam.
Alasan resmi: biar kelihatan keren.
Alasan sebenarnya: untuk sembunyikan mata yang basah.
Menangis ternyata, ya.

Dan tiba-tiba saya ingat diri saya dulu.
Waktu kembali ke perantauan. Naik bus. Duduk di kursi dekat jendela. Menangis pelan-pelan. Tidak ada yang tahu.
Hari ini rasanya sama. Hanya saja, kali ini saya di kursi pengantar.

Adik ketiga ini—paling sering bikin riuh rumah.
Kadang kami debat soal baju kaos yang dia pakai tanpa izin. Kadang soal parfum saya yang tiba-tiba berkurang. Tadi pagi malah ribut soal Al-Quran: punyaku atau punyanya.
Padahal, kalau saya jujur, sebenarnya dalam hati tak apa juga.

Saya teringat sebuah foto. Tahun 2023.
Saya minta tolong dia bawakan tas. Bawakan segala macam mau saya. Dia lakukan. Tanpa banyak tanya.
Hari ini, giliran dia pergi. Membawa harapan besar.

Rumah akan lebih sunyi. Tidak ada lagi ribut-ribut kecil.
Tapi hati saya harus lapang.

Doa saya sederhana.
Semoga dia sukses.
Semoga ilmunya berkah.
Semoga jadi anak sholeh yang bermanfaat bagi banyak orang.

Air mata saya jatuh juga.
Tapi bukan karena kehilangan.
Karena saya percaya, setiap langkahnya di kota hujan adalah bagian dari doa yang sedang Allah kabulkan.

Jumat, 12 September 2025

Tiga Buah Jeruk di Kantong Plastik Putih


Hari itu aku senang sekali, aku merengek minta dibelikan sate saat ditanya mau makan apa. Pasalnya aku pengen makan sate itu sejak lebih dari satu bulan lalu. Tapi, belum kesampaian. Setauku, sate hanya buka malam hari, pun titip adikku, tak pernah sampai sate itu.
"Pengeen mamam sateee." ucapku manja, sambil memandangnya dengan penuh harap. Kami memang sedang bertemu sore itu, dan seperti biasa aku tak bisa menahan keinginan untuk meminta sesuatu dengan nada rengek yang kubuat-buat dengannya. 

Ia hanya tersenyum tipis, seolah tak banyak bicara, lalu beranjak tanpa komentar panjang setelah aku menadapatkan jawaban Ikan akan menjadi makanannya sore itu. Aku menganggapnya setuju untuk membawakanku sate, walaupun harus dibeli di tempat yang berbeda dengan makanan kesukaannya. 
Aku menatap layar ponsel beberapa kali, menunggu apakah ada kabar lanjutan tentang sateku. Dan benar saja, tak lama masuk sebuah pesan:
"Pakai nasi atau lontong?"

Aku pun minta dipilihkan, meski ia tetap memberi kesempatan menyesuaikan dengan keinginanku. Padahal bagiku, apa pun tak masalah. Lontong atau nasi, aku akan terima dengan senang hati. Yang terpenting adalah aku bisa makan sate, bukan dengan membelinya sendiri, melainkan ada yang membawakannya untukku. Ada rasa berbeda yang sulit kuceritakan—antara dimanja dan diperhatikan, antara canggung tapi manis.

Hampir satu jam aku menunggu, sampai akhirnya ia kembali dengan kantong plastik hitam di tangannya.
"Ini satenya," katanya singkat, lalu mengeluarkan juga ikan nila goreng kesukaannya. Aku menatapnya lekat-lekat, antara lega, bahagia, dan malu-malu. Ia sibuk menata makanan di meja, sedangkan aku masih saja merengek, kali ini agar ia yang membukakan bungkus sate.

Karetnya memang mudah dibuka, tapi aku bersikeras ingin ia yang melakukannya. Jadilah perdebatan kecil cukup tegang, aku tetap tak menyentuh sate iru sampai akhirnya memilih makan nasi dan ikan nila dulu dari piringnya. Perutku memang lapar, tapi hati kecilku masih menunggu: menunggu dibukakan sate itu olehnya.

Saat aku bangkit sebentar, mataku menangkap plastik putih di sudut meja. Aku penasaran, lalu kubuka perlahan. Ternyata isinya buah. Jeruk.
Aku terdiam. Jeruk itu datang begitu saja, tanpa kata, tanpa penjelasan. Hanya berpindah dari tangannya ke meja di hadapan kami. Sederhana, hening, tapi meninggalkan gema yang dalam.

Aku teringat, beberapa kali aku pernah berpesan, “tolong bawakan adek buah ya, yang segar, yang agak asem.” Kupikir hanya akan jadi permintaan lewat angin, tapi ternyata ia menyimpannya, lalu jadi lebih sering membawakannya dengan cara sesederhana itu: sebungkus jeruk segar di antara sate dan ikan nila.

Hari itu, jeruk-jeruk itu terasa lebih dari sekadar buah. Sepanjang hari aku jadi bersemangat. Besoknya, dua sudah kumakan habis, manis-asemnya masih menempel di lidahku, tinggal satu yang kusimpan baik-baik, seolah tak rela cepat menghabiskannya. Jeruk terakhir itu seperti pengingat, bahwa perhatian bisa hadir tanpa banyak bicara, bahkan tanpa perlu kata cinta.

Aku bersyukur. Karena lewat sate dan jeruk yang datang sore itu, aku tahu satu hal: aku diingat, aku diperhatikan, aku dicintai. Dan diam-diam, aku menyimpan satu harapan, semoga segera ada pertemuan lagi, agar bisa kuceritakan langsung betapa berharganya perhatian kecil itu bagiku.

Terima kasih yaaa...

Jaket Kesayangaku

Jaket itu bukan sekadar kain. Ia saksi perjalanan yang menempel di kulit dan kenangan. Pernah robek saat tubuhku terjatuh di aspal, tapi justru di situlah aku belajar: sesuatu yang kita sayangi kadang harus rusak demi menjaga kita tetap utuh.

Di setiap perjalananku, jaket itu ada. Menemani pagi yang dingin, menutupi resah di sore yang panjang, hingga ikut mendengar diam-diam doa yang tak terucap. Ia sudah lebih dari sekadar pakaian—ia seperti sahabat yang tahu tanpa banyak bicara.

Kini, jaket itu tak lagi kupakai. Bukan karena hilang makna, tapi karena waktu membuatnya rapuh. Meski begitu, belum ada yang benar-benar bisa menggantikannya. Ada ruang kosong setiap kali aku mencoba mengenakan yang baru. Seperti hati yang masih mencari teduh di tempat lain, tapi tahu, ada satu tempat yang selalu istimewa.

Hari ini aku sedang rindu. Rindu pada jaket yang setia menemani langkah, rindu pada diriku yang dulu bersama jaket itu belajar arti bertahan. Mungkin ini hanya sebuah barang, tapi bagi hatiku, ia adalah cerita—cerita tentang kehilangan, perlindungan, dan kenangan yang tak bisa diulang.

Terima kasih, jaket kesayanganku. Sudah jadi teman setia dalam diam, sudah mengajarkanku arti sayang yang sederhana tapi tulus.

Minggu, 07 September 2025

Jamu di Dalam Botol Kaca

Di balik lemari yang dingin itu, tersimpan dua botol kecil berwarna kuning emas. Isinya bukan sekadar cairan, tapi jejak warisan yang tak pernah hilang: laos, jahe, kunyit, dan serai.
Rasanya pedas, getir, hangat… tapi bukankah hidup pun begitu? Kadang pahit di lidah, tapi justru menyembuhkan di tubuh.

Aku jadi ingat, dulu nenek selalu bilang: “Minumlah jamu, karena tubuhmu perlu dipeluk dari dalam.”
Dan benar saja—

Jahe menghangatkan perut, mengusir masuk angin.
Kunyit menenangkan peradangan, membuat tubuh terasa ringan.
Lengkuas menjaga pencernaan tetap bersahabat.
Serai meluruhkan lelah, membuat tidur lebih tenang.

Kini, dalam botol kaca yang sederhana itu, ada doa-doa nenek yang tak pernah benar-benar pergi. Ada cinta yang diracik dalam rebusan, lalu dibekukan oleh waktu, agar bisa kuminum di hari ini.

Kadang aku tersenyum sendiri. Jamu ini mengajarkanku: hal-hal sederhana bisa jadi penawar, selama kita mau berhenti sejenak dan menikmatinya.

Jeruk dan Rasa yang Tak Pernah Sama

Aku memegang sebuah jeruk di tanganku. Bulat, utuh, dengan kulit yang tampak mulus.
Dari luar, aku kira rasanya pasti manis. Tapi ketika dikupas, ada kalanya asam yang lebih mendominasi.

Lalu aku berpikir, bukankah hidup juga seperti jeruk?
Kadang tampak manis dari luar, tapi saat dirasakan, ada getirnya. Dan sebaliknya, ada yang tampak sederhana, tapi justru menyimpan manis yang tidak terduga.

Jeruk itu mengajarkanku tentang penerimaan.
Bahwa kita tidak bisa selalu memilih rasa yang datang dalam hidup. Ada saatnya manis, ada kalanya asam. Tapi keduanya tetap bermanfaat, tetap menyegarkan, tetap ciptaan Allah.

Seperti firman-Nya:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman:13).

Ternyata, hidup tidak melulu soal mencari yang manis.
Tapi bagaimana kita belajar menemukan hikmah, bahkan dari rasa asam yang singgah.
Dan mungkin, seperti jeruk ini, aku juga sedang belajar: untuk tetap bersyukur pada setiap rasa yang Allah titipkan.

Donat dan Rasa Syukur

Aku tidak pernah benar-benar paham, kenapa donat selalu dibiarkan bolong di tengahnya.
Apakah agar mudah dipegang? Atau sekadar ciri khas?

Tapi hari ini, saat menatap donat di hadapanku, aku merasa lubang kosong itu berbicara.
Bahwa hidupku pun sama. Ada bagian yang tidak pernah penuh. Ada ruang yang sengaja Allah biarkan kosong—bukan untuk melemahkan, tapi agar aku selalu ingat kepada-Nya.

Donat itu tetap manis, meski ada yang hilang. Sama seperti hidupku. Aku masih bisa tersenyum, masih bisa tertawa, meski tidak memiliki segalanya.

Aku teringat firman Allah:
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS. Ar-Rahman: 60).

Mungkin lubang kosong di donat hanyalah cara Allah mengajarkanku untuk melihat manisnya nikmat di sekeliling.
Jangan terlalu sibuk menatap kosongnya, sampai lupa bahwa di sekelilingnya ada rasa yang membuat orang datang dan jatuh cinta.

Hidup tidak harus penuh untuk bisa indah.
Kadang, justru karena ada kekosongan, kita bisa belajar arti syukur yang sesungguhnya.

Sabtu, 06 September 2025

deserve to be understood



I fought for it countless times 
before I finally let go.

I tried to understand everything—
over and over—
even when it made no sense, 
until I could no longer hold on.

Perhaps, 
after all the struggles, 
my heart simply grew tired of waiting. 

Then one day, 
I woke up and realized 
that I, too, 
deserve to be understood, 
to be fought for, 
and to be loved.